Pengarang: Ken Terate
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit buku: 28 Februari 2024
Tebal buku: 384 halaman
Baca di Gramedia Digital
Rating: ⭐⭐⭐½
Mel, atlet renang cemerlang. Suatu hari ia jatuh cinta pada cowok yang salah. Satu fotonya 'kurang pantas' tersebar, menghancurkan segalanya dalam semalam; prestasi, nama baik, keluarga, persahabatan. Mel dikeluarkan dari sekolah, dipecat dari klub, disingkarkan oleh teman-temannya.
Ini saatnya kamu bergerak, Mel! Mau sampai kapan kamu begini? Hadapi kenyataan! Move on!
Mel depresi. Pertemuannya kembali dengan Ega mengguncang dunia murungnya. Ega juga punya catatan kelam. Ia memaksa Mel keluar dari cangkang gelap, meski Mel takut. Namun, akankah reputasi Mel yang sudah tercabik bakal utuh kembali? Apakah Ega bisa menerima Mel yang pernah tercela? Mungkinkah Mel melompat dan berenang lagi untuk menemukan cinta yang sempat pergi?
Amelia, seorang anak SMA dan juga atlet renang yang berprestasi. Sejak kecil hidupnya selalu diatur untuk tidak membuang-buang waktu. Sehari-hari Amel disibukkan dengan urusan sekolah dan pelatihan renang. Terkadang ia harus absen sekolah beberapa hari saat mengikuti pertandingan renang. Dengan segudang prestasi yang ia raih, Amel mudah sekali mendapat izin tidak masuk dan mengikuti ujian susulan. Namun, seiring berjalannya waktu, Amel mulai bosan dengan jadwal kegiatannya yang makin banyak. Amel merasa tidak bisa menjalani kehidupan remajanya seperti remaja lain umumnya.
Hidup terus berjalan dan kamu harus melakukan apa yang harus kamu lakukan, meski berat.
Suatu hari, saat sedang mengikuti ulangan susulan, ada seorang murid laki-laki bernama Axel terlihat gusar karena kesulitan mengerjakan ulangannya. Amel yang melihatnya langsung memberinya bantuan jawaban. Dari situ, Amel dan Axel menjadi lebih dekat. Mulanya hanya sekadar bertukar sapa, lalu berbicara singkat, dan akhirnya berpacaran. Kedekatan keduanya mendapat penolakan dari sahabat AmelーTantri, karena desas-desus soal Axel yang bertingkah laku tidak baik. Dan benar saja, Axel mengambil foto Amel tanpa atasan dan disebarkan melalui grup WhatsApp.
Jangan biarkan itu mendefinisikan dirimu. Beberapa atlet pernah terlibat skandal, kasus doping, atau apalah, tetapi mereka bisa kembali dengan prestasi luar. Semua orang pernah berbuat salah, tapi kesalahan itu hanya bagian kecil diri mereka, kan'?
Saat membaca sinopsisnya, aku langsung tertarik untuk membaca buku ini. Mengingat sebelumnya aku pernah baca novel-novel Ken Terate lainnya yang selalu mengangkat permasalahan remaja perempuan dengan cara yang menarik. Seperti di novel ini yang berfokus pada masalah revenge porn yang bermula dari foto-foto Amel tanpa busana atasan yang diambil Axel tanpa izin. Novel ini memang berakhir dengan semestinya: Axel mendapat hukuman dan Amel kembali hidup normal. Namun, jalan ceritanya yang agak kepanjangan membuatku kebosanan di tengah jalan dan butuh waktu seminggu menyelesaikannya.
Setiap orang punya sisi gelap, Mel. Semua orang punya pikiran-pikiran sendiri yang rumit dan tak akan pernah dimengerti orang lain.
Novel ini ditulis menggunakan sudut pandang tokoh utama, yaitu Amel. Penggunaan sudut pandang ini membuatku lebih mengerti dan paham dengan pemikiran dan perasaan Amel seperti apa. Di saat yang sama, aku kerap dibuat kesal dan jengkel dengan pemikiran Amel yang egois dan seenaknya sendiri. Seperti saat ia dengan mudah menyepelekan jadwal pelatihan dan janjinya kepada Tantri untuk datang ke pertunjukan teaternya. Aduh, rasanya aku ingin ngata-ngatain si Amel.😌🖐️
Sedikit demi sedikit aku jadi bisa memahami bagaimana kalut dan frustrasinya orang-orang yang jadi korban revenge porn. Ternyata semenakutkan itu ketika orang-orang berpura-pura peduli padahal hanya sekadar penasaran bahkan mulai berasumsi liar tentang kita. Perasaan malu, rendah diri, hidup terasa berhenti diperlihatkan penulis melalui perubahan tingkah laku Amel yang suka mengurung diri, menghindari keramaian, menjauhi teman, dan berpikiran buruk tentang dirinya sendiri.
Semua akan baik-baik saja. Jangan pernah berpikir hidupnya sudah berakhir karena hidupmu sangat berarti. Kamu berarti, minimal untuk keluargamu.
Di bab pertama, penulis sudah menunjukkan kondisi Amel pascakejadian revenge porn yang membuatnya takut bersosialisasi dengan orang lain. Selanjutnya, alur cerita kembali ke masa lalu menceritakan awal mula pertemuan Amel dan Axel dan bagaimana peristiwa itu terjadi. Kemudian alur kembali maju menceritakan proses Amel menerima keadaan. Meski alur yang digunakan maju-mundur, aku tidak kesulitan mengikuti ceritanya karena perubahan alurnya sangat jelas.
Dari segi karakter, jujur saja tidak ada tokoh yang aku suka karena semuanya kurang berkesan. Karakter Axel, sih, sudah pasti yang paling aku benci. Tapi, latar belakang keluarga Axel yang bermasalah memancing rasa penasaranku. Informasi tentang keluarga Axel ini bisa jadi cerita yang cukup seru untuk dibahas lebih, tapi karena Axel bukan tokoh utama, cerita kehidupannya tidak terlalu mendetail. Aku penasaran dengan kehadiran adik Axel yang tiba-tiba dan menyisakan pertanyaan seputar hubungan kakak-adik itu.
Konflik yang diangkat penulis tidak hanya berpusat pada Amel saja, tapi juga keluarganya yang diam-diam punya masalah sendiri. Lebih tepatnya Ibunya Amel yang terlihat ambisius membuat anak-anaknya selalu aktif berkegiatan dan mendulang prestasi. Awalnya sikap si ibu terkesan memaksa, tapi ternyata dibalik semua itu ada alasan tersendiri. Well, aku paham semua orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Dari penjelasan situasi Ibunya Amel, aku juga semakin mengerti bahwa banyak hal yang sudah dikorbankan perempuan saat menjadi ibu.
Satu hal yang masih mengganjal buatku adalah sikap ayahnya Amel yang cenderung pasif dan terkesan menghindar tiap ada masalah. Mungkin tujuan ayahnya bersikap begitu agar konflik keluarganya tidak membesar, tapi entah itu justru membuat ayah Amel terkesan kurang tegas. Walaupun sudah ada penjelasan soal sikap ayahnya, tapi aku masih belum puas dan terasa ada yang kurang. Last, novel ini agaknya kurang memberikan kesan seru buatku, tapi aku rasa buku ini bisa memberi ilmu baru tentang pentingnya punya boundaries dalam hubungan dan juga mawas diri dari kejahatan dunia maya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar