
Gadis Minimarket
Pengarang: Sayaka Murata
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit Buku: 2 Agustus 2020
Tebal Buku: 164 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit Buku: 2 Agustus 2020
Tebal Buku: 164 halaman
Rating: ⭐⭐⭐⭐⭐
Dunia menuntuk Keiko untuk menjadi normal, walau ia tak tahu "normal" itu seperti apa. Namun di minimarket, Keiko dilahirkan dengan identitas baru sebagai "pegawai minimarket". Kini Keiko terancam dipisahkan dari dunia minimarket yang dicintainya selama ini...
Dunia normal adalah dunia yang tegas dan diam-diam selalu mengeliminasi objek yang dianggap asing. Mereka yang tak layak akan dibuang.
Seperti hari-hari biasanya, Keiko sampai ke minimarket pukul 8 pagi. Menyimpan barang bawaannya di loker belakang dan menyiapkan agenda sebagai pegawai minimarket. Di mulai dari menata display makanan cepat jadi yang simpel, menata makanan dan minuman sesuai display yang sudah ditentukan. Selain itu Keiko juga bertanggungjawab sebagai petugas kasir sambil menawarkan produk baru demi mengejar target penjualan. Kegiatan ini normal bagi Keiko, tapi tidak dengan pandangan masyarakat di sekitarnya.
Bagi orang-orang terdekat dan tidak dikenal, Keiko adalah manusia abnormal yang tidak menjalankan standar masyarakat pada umumnya. Ketika manusia seumuran Keiko banyak yang sudah punya pekerjaan tetap dan memiliki anak, Keiko justru masih bekerja paruh waktu di minimarket selama 18 tahun dan belum menikah. Pacaran saja bahkan belum pernah. Kehidupan yang 'tidak normal' ini membuat Keiko sering jadi omongan orang-orang. Semua orang sibuk menghakiminya dan mengasihaninya dengan beberapa kali turut ikut campur dalam mencarikannya pasangan. Padahal selama ini Keiko merasa baik-baik saja dan tidak ada yang salah dengan hidupnya.
Tahun ini adalah kali kedua aku membaca buku ini. Sengaja karena ingin tahu apakah pandanganku terhadap buku ini masih sama atau ada perbedaan. Seperti yang sudah aku jelaskan di atas, novel ini punya plot yang cukup sederhana tentang perempuan berusia 30-an yang hidup sebagai pegawai minimarket, tapi sering dihakimi oleh masyarakat atas semua pilihan hidupnya. Plot yang cenderung simpel, tapi menyimpan nilai berat kayaknya jadi salah satu ciri khas novel literatur Jepang, ya.
Keiko Furukura adalah tokoh utama yang tidak menonjol, hidup dan sikapnya cenderung biasa-biasa saja. Namun, dibaliknya ia sering kali mempertanyakan keanehan reaksi orang-orang di sekitar soal hidupnya. Ia sendiri merasa baik-baik saja dan tidak ada hal yang salah dengan hidupnya, tapi menurutnya orang-orang menganggap dirinya 'tidak normal'. Aku melihat karakter Keiko ini memang ada keanehan seperti masa kecilnya yang sering mengambil tindakan impulsif tanpa pikir risiko yang sering kali melukai orang lain. Aku pikir sikap anehnya Keiko ini seharusnya langsung dicek ke psikolog, alih-alih dihakimi orang tuanya (misal: diminta bersikap normal). Bagiku bagaimana anak bisa dituntut memperbaiki diri kalau penyebab tindakan impulsifnya tidak diketahui.
Mereka heran ketika ada orang umur tiga puluhan yang bekerja sambilan....Kenapa belum pernah punya pacar? Bahkan dengan santainya mereka bertanya soal pengalaman seksual. Padahal aku tak menyusahkan siapa pun. Hanya karena aku minoritas, dengan gampangnya mereka mau memerkosa kehidupanku.
Keanehan berikutnya adalah kecenderungan Keiko mengikuti cara bicara, tindak tanduk, dan reaksi orang lain alih-alih jadi dirinya sendiri. Contohnya ketika managernya marah karena ada pegawai yang menyeleweng, ia langsung pura-pura ikut marah. Alasannya Keiko tidak ingin dianggap aneh dan ingin diterima keberadaannya. Selain Keiko, ada juga tokoh Shiraha, tokoh sampingan yang juga pegawai minimarket dan sering jadi korban tuntutan masyarakat. Dibandingkan Keiko, Shiraha justru memilih balik mengkritisi pandangan masyarakat tentang dirinya. Shiraha ini laki-laki yang suka bertingkah seenaknya sendiri, suka mengeluh, dan tidak tahu diri. Ia tidak suka dikritik orang, tapi ia juga sibuk mengkritisi hidup Keiko. Jadinya standar ganda. Banyak kaya-kata Shiraha yang terkesan sok dan cenderung merendahkan Keiko. Belum lagi ia punya angan-angan besar, tapi enggan berusaha. Pada akhirnya omongannya hanya sekadar isapan jempol. Segala tingkah Shiraha ini bikin aku kesal dan muak.
Menurutku ketika ada sesuatu yang dianggap aneh, semua orang tanpa sungkan merasa berhak untuk ikut camour dan mereka berusaha mengungkap alasannya.
Melalui interaksi Keiko dengan orang-orang di sekitarnya, penulis mengangkat isu yang sering kali membuat orang-orang merasa dikejar target kehidupan. Seperti misalnya umur 25 sudah harus punya pekerjaan tetap dengan jabatan mentereng, tabungan dengan digit sekian, dan punya pasangan. Tanpa sadar, ekspektasi-ekspektasi yang tidak masuk akal ini menjadi standar yang harus dipenuhi manusia agar diterima masyarakat. Polemik yang diangkat Murata-san melalui Keiko sering kali dialami oleh masyarakat Asia yang dikenal punya standar terlalu tinggi. Apa dan bagaimana sesuatu terjadi sudah ditentukan hasilnya harus sempurna. Tanpa sadar hal ini membuat orang-orang sulit merasa bahagia.
Kalau belum seutuhnya terjun ke masyarakat, berarti kami harus bekerja. Setelah bekerja kami dituntut menghasilkan banyak uang, setelah itu menikah dan memiliki keturunan. Dan masyarakat akan terus menghakimi.
Seperti saat Keiko berkumpul dengan teman-temannya, ia harus menghadapi pertanyaan soal pekerjaan dan hubungan percintaanya. Saking sering diinterogasi soal hidupnya, Keiko harus repot-repot menyiapkan jawaban. Di balik itu sebenarnya Keiko tidak habis pikir dengan orang-orang yang suka ingin tahu dan juga sok tahu soal pilihan hidupnya. Masyarakat menganggap ia perempuan kesepian yang harus dikasihani. Padahal Keiko tidak merasa demikian. Penggunaan sudut pandang pertama sangat tepat karena sebagai pembaca, aku jadi bisa turut merasakan reaksi, perasaan, dan pikiran Keiko saat menghadapi komentar orang-orang di sekitar.
Hal yang menarik dari buku ini adalah kecintaan Keiko terhadap minimarket dan siklus kehidupan pegawai minimarket yang didiskripsikan dengan baik. Mulai dari pergantian shift, penyusunan makanan dan minuman di rak (ternyata ada aturannya), pentingnya memperhatikan cuaca sehingga bisa tahu produk mana yang kemungkinan cepat habis, dan lain-lain.
Meski bukunya hanya setebal 164 halaman, Murata-san berhasil membuat kisah sederhana dengan gaya penulisan yang ringan, sederhana dan asik untuk diikuti. Alur yang digunakan cukup cepat, tapi topiknya berhasil dikemas secara keseluruhan tanpa ada yang tertinggal dan terburu-buru. Salut juga dengan penerjemahnya yang berhasil menerjemahkan novel ini dengan baik sehingga ceritanya tidak terasa janggal dan enak dibaca. Konflik yang diangkat juga terasa dekat dan relate dengan pembaca dewasa yang menghadapi banyak tuntutan dan tantangan hidup. Kalau kamu suka novel literatur Jepang, jangan lewatkan buku ini 🌞
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar