14 Februari 2018

Book Review: Persona by Fakhrisina Amalia

Persona
Penulis: Fakhrisina Amalia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2016
Tebal Buku: 248 halaman
Rating: 5 of 5 stars
Teman tidak seharusnya mengabaikan temannya seperti itu.
Persona mengisahkan seorang gadis SMA bernama Azura yang hidupnya penuh kesendirian. Di sekolah, Azura tidak memiliki teman satu pun. Ia lebih suka menyendiri. Di rumah, ia tidak mendapat kedamaian hidup; orang tuanya sering bertengkar yang membuatnya terdorong untuk menyayat tangannya agar tenang. Azura beranggapan bahwa menyayat tangan mampu mengalihkan rasa sakit hatinya. Setiap kali berangkat sekolah, ia selalu menutupi bekas sayatan tersebut dengan handband.

Ketika istirahat kelas, Azura pergi ke perpustakaan untuk melihat aksi kak Nara bermain sepak bola di lapangan melalui jendela. Pada suatu pagi di sekolah, Azura bertemu dengan seorang murid baru bermata sipit dan keturunan Jepang, Altair Nakayama. Altair menyapa Azura dengan aksen khas orang Jepang yang melafalkan huruf R alih-alih huruf L pada sapaan "selamat pagi". Siapa yang menyangka perkenalan dengan Altair pagi itu mampu mengubah kehidupan Azura yang monoton menjadi lebih berwarna.
Ada hal-hal dalam hidup yang kadang tidak bisa kita bagi ke siapa pun. Entah karena terlalu menyakitkan, atau karena terlalu membahagiakan sehingga kita tidak ingin menyimpannya untuk diri kita sendiri. 
Azura tidak lagi sendirian. Ia punya Altair yang menemaninya setiap istirahat kelas. Kehadiran Altair pun mampu menghentikan kebiasaan buruknya yang dulu biasa Azura lakukan. Altair adalah tempat curhatan hatinya; orang yang paling memahami perasaan Azura ketika orang lain tidak bisa. Karena Altair, Azura tidak lagi melanjutkan kegiatan mengagumi kakak kelasnya yang bernama Tirtanara W. melalui jendela perpustakaan.
Hanya karena kau menganggapku temanmu, bukan berarti aku juga menganggapmu temanku.
Sayang, kehidupan Azura yang berwarna itu tak lagi ada ketika Altair pergi meninggalkannya tanpa kabar. Selama Altair menghilang, Azura berhasil menjalani kehidupan mahasiswanya dengan baik, berkat sahabat barunya Nayara W. atau Yara, mahasiswi jurusan Arsitektur. Yara adalah sosok yang ceria, pemimpi besar dan penyayang keluarga. Yara selalu berusaha mendengar keluh kesah Azura dan memberinya semangat positif ketika Azura dirundung masalah. Yara juga merupakan adik dari Nara, kakak kelasnya dulu. Saat Azura sudah mulai nyaman dengan kehidupan yang baru itu, Altair kembali.
Tuhan nggak pernah ngasih kita beban kecuali untuk menjadikan kita orang yang lebih kuat.

Persona sudah masuk ke dalam daftar buku-yang-harus-dibeli, tetapi aku tidak pernah menemukan keberadaan buku ini di toko buku hingga kemudian aku menemukannya di iPusnas. Boleh dikatakan, novel ini rasanya ilegal bila dikupas habis-habisan di dalam resensi buku meskipun tidak mencantumkan spoiler. Mengapa? Karena dari awal cerita dimulai sampai bab akhir, Persona mengandung banyak misteri. Pada bab awal, penulis sengaja memunculkan potongan cerita yang akan menimbulkan pertanyaan di benak pembaca: "ada apa ini? apa yang terjadi?". Barulah pembaca diajak berpetualang mulai dari pertemuan Azura dengan Altair Nakayama. Alur cerita yang dibuat mengalir apa adanya dan seimbang. Secara perlahan-lahan penulis mengajak pembaca menuju ke arah plot twist yang mengejutkan.

Pada permulaan cerita, aku melihat sosok Altair sebagai lelaki yang baik dan pengertian. Aku tersentuh bagaimana ia berusaha membuat Azura tersenyum. Sampai ketika penulis menunjukkan plot twistnya..... Aku terkejut bukan main, bahkan denial. Berkali-kali aku memastikan bahwa aku masih membaca novel yang sama. Aku sangat mengapresiasi usaha penulis yang telah membuat plot twist tidak terduga ini. Sebenarnya, penulis sudah berbaik hati memberikan petunjuk yang mengarahkan aku pada plot twistnya; salah satunya percakapan Azura dan Altair yang terkesan baku. Namun, aku menanggapinya dengan wajar; tidak curiga sedikit pun. Penggambaran tokoh Azura sangat kuat dan terkesan nyata. Aku agak ngeri saat membaca bagian sayat-menyayat tangannya. Tetapi, itu berhasil memperlihatkan kondisi psikologis Azura. Tidak hanya itu, sudut pandang yang diambil yaitu Azura sendiri sebagai orang pertama berhasil membuatku turut melihat bagaimana masalah-masalah dan pertentangan yang dihadapi oleh Azura. 

Novel ini mengangkat isu psikologis yaitu mental ilness yang terjadi pada Azura. Semacam genre yang cukup gelap dan terasa sulit untuk diikuti, tetapi.... Tenang saja, Persona ditulis dengan sangat baik karena bahasan psikologinya tidak seberat yang dikira. Amanah yang bisa diambil dari Persona adalah jangan hanya jadi manusia yang ingin didengar orang lain. Berusahalah juga mendengar orang lain, karena ketika kita mendengar mereka bercerita (setidaknya) mengurangi beban hidup dan pikirannya. Terutama bagi orang-orang sedang mengalami mental illness

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...